SELAMATKAN NKRI DARI RADIKALISME TEOLOGIS

Ancaman terhadap NKRI sudah di depan mata kita semua. Ancaman tersebut sudah berasal dari berbagai aspek, baik lewat pendidikan, ekonomi, politik maupun bidang agama dan dakwah. Bukan rahasia bahwa Negara Indonesia adalah negara yang sangat terbuka dan sangat mudah didatangi para pelarian alumni luar negeri yang kontra budaya dan Nasionalis. Sehingga, perlu ada tindakan dan  etegasan terhadap pihak-pihak yang merongrong Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Banyak perilaku mengatasnamakan agam Islam yang meresahkan keutuhan negara dalam upaya untuk mengganti konstitusi kita. Kelompok kelompok yang anti NKRI, anti Nasionalis dengan argumentasi agama mereka ingin melegalkan pemahaman lewat mimbar-mimbar Masjid, majlis pendidikan, tarbiyah dan saluran politik. Padahal Islam adalah agama Wasathiyah, bahkan dalam alqur’an sudah ditetapkan bentuk umat yang ideal, yaitu ummatan wasathan (Surat Al-Baqarah 143). Yaitu umat yang moderat, berwibawa yang berperan di segala bidang, baik budaya, politik dan sains untuk membangun bangsa dan negara Indonesia yang plural dan demokratis. Karenanya, menuju umat wasathan harus cerdas, tegas, dan menyiapkan SDM yang mumpuni, sebab tanpa keilmuan yang mendukung akan cenderung ekstrim ke kanan atau ke kiri.

Sejak tahun 80-an mulai sudah masuk berbagai macam gerakan radikal, terutama radikal ideologi. Sebut saja kelompok wahabi, gerakan mereka tanpa tindakan kekerasan dengan mengatakan hormat bendera haram, maulid bid’ah, tahlil bid’ah dan sebagainya yang semua gerakannya dilakukan dengan santun, tidak mencaci maki dalam mengajak umat Islam meninggalkan bid’ah versi mereka. Kemudian datang salafi dari yaman, Syaikh Muqbil al-Tammaj yang gerakannya lebih keras dari wahabi, yaitu dengan cara caci maki, menghina dan mengolok-olok. Kemudian ada Gerakan Jihadi yang menghalalkan membunuh non-muslim dan menghancurkan rumah ibadah mereka. Puncaknya lagi adalah takfiri yang dibentuk Syukri ahmad Mustafa, Mesir yang menganggap semua orang kafir, kecuali kelompok mereka sendiri. Kelompok Merekalah yang dianggap membunuh Presiden Anwar Sadad pada tahun 81-an dan Syaikh Husain al Dzahabi bahkan tega mengebom jamaah shalat Jum’at. Kita yang nasionalis religius saja dikafirkan mereka karena mendukung Pancasila, Bineka Tunggal Eka, NKRI dan UUD45 atau disingkat dengan PBNU. Bahkan dulu sahabat Ali bin Abi Thalib dikafirkan semenjak ada kelompok Kh`awarij yang berpedoman Man lam yahkum bima anzalaallah faulaika humul kafirun. Hal tersebut lantaran sahabat Ali ketika memutuskan perkara disertai dengan hasil pertimbangan musyawarah antar para sahabat dan tidak langsung menerjemahkan pemahaman al-Qur’an.

Dari hal tersebut, kita perlu pijakan kokoh untuk mempertahankan negara Indonesia tercinta ini, baik budaya dan geografis yang kita miliki dari paham-paham yang berseberangan dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia sebagai negara “Darus Salam”. Tidak ada pijakan yang lebih kuat dan mengakar kecuali doktrin wawasan kebangsaan dan membumikan fiqhu ijtima’i atau fikih kebangsaan moderat sebagai pedoman cara beragama dan bernegara dengan baik bagi warga negara atas dasar Negara Kesatuan Ripublik Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *